Mengenal Lebih Erat Group Musik Melayu Wak Uteh

Mengenal Lebih Erat Group Musik Melayu Wak Uteh - Hallo sahabat http://syuhadashahrizam23.blogspot.com, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Mengenal Lebih Erat Group Musik Melayu Wak Uteh, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Hot Info, Artikel My Ngamen, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Mengenal Lebih Erat Group Musik Melayu Wak Uteh
link : Mengenal Lebih Erat Group Musik Melayu Wak Uteh

Baca juga


Mengenal Lebih Erat Group Musik Melayu Wak Uteh

Sobat Ngamen pernah mendengar lagu lagu Wak Uteh ?, saya yakin banyak yang menyukainya alasannya ialah lagunya yang super kocak dengan selalu mempertahankan tradisi dan ciri khas melayu. Saya termasuk yang sangat menggemari lagu lagunya. Dua lagu favorit saya adalah  Angin Koncang dan Tutur Melayu. Nah, kali ini saya akan bagikan informasi dari lenteratimur.com wacana siapa Wak Uteh sebenarnya.


Di Sumatera Utara, tepatnya di Tanjung Balai, terdapat insan jenius di bidang musik Melayu Pesisir. Wak Uteh, begitu namanya. Tapi, pada mulanya, Wak Uteh bukanlah nama orang. Ia merupakan nama sebuah judul lagu yang dinyanyikan oleh Djalaut Hutabarat.
Djalaut Agustinus Hutabarat ialah pemimpin Roncah Group Musik Tanjung Balai yang beranggotakan Tok Laut, Syafii Panjaitan, Azlina, Azum, Darwin Sitinjak, Atoen Soraya, Ika, Sima, Rita, Ratna Hasibuan, dan Syawal DM. Sedangkan ‘Wak Uteh’ dipakai sebagai nama pengganti Djalaut begitu judul lagunya itu terkenal. Karena itu, tak heran jikalau masyakarat pun lebih mengenal nama Wak Uteh ketimbang Djalaut atau Roncah.
Lagu-lagu Wak Uteh lahir di dikala lagu-lagu Melayu mulai memudar. Dia muncul ketika masyarakat Mandailing, Batak, dan Karo cukup progresif memproduksi lagu-lagunya–yang dinyanyikan dikala pesta-pesta ijab kabul dan acara-acara perhelatan kebudayaan. Lambat laun, kuping orang Melayu lebih dekat dengan lagu-lagi dari Mandailing, Karo, dan Batak.
Lagu Melayu terasa tak lagi berkembang, dan yang dimainkan atau beredar pun hanya yang buatan usang saja. Kondisi ini membuat Wak Uteh merasa ‘terpanggil’. Dia pun membuat lagu Melayu biar tak terpendam, lenyap tak bertapak.
Akan tetapi, Wak Uteh sendiri ialah orang Batak, bukan Melayu tulen (dalam pengertian etnis). Kecintaannya terhadap kebudayaan Melayulah yang membuatnya sanggup menyerap “roh” Melayu Pesisir yang jenaka dan mengihibur. Karena itu, di kalangan masyarakat, lagu-lagu Wak Uteh bagaikana mempunyai “sihir”. Dia menjadi pemuas rindu atas mulai pupusnya lagu-lagu Melayu Pesisir.
Rentak senandung Wak Uteh pun bergema ke seluruh penjuru melalui lagu-lagu yang diproduserkan oleh Wak Uteh sendiri, alias Djalaut Hutabarat. Di rumah-rumah, angkutan-angkutan umum, kedai-kedai, selalu terdengar musik pesisir ini. Wak Uteh menjadi dekat di hati masyarakat Sumatera Utara, khususnya Tanjung Balai. Bahkan, senandungnya sudah hingga ke Semenanjung di Malaysia.
Lantaran besarnya efek Wak Uteh terhadap perkembangan musik Melayu Pesisir, sudah banyak penghargaan yang diraihnya. Dan hingga kini, Wak Uteh disebut-sebut sudah mencapai album ke-15.
Isi
Musik Wak Uteh mempunyai ciri khas pada rentak-nada iramanya (beat). Nuansanya riang gembira, ringan (easy listening), dan bergaya Melayu Pesisir. Sesekali satir, penuh humor, dan menceritakan kenyataan sehari-hari. Dan sebagaimana musik-musik Melayu, pantun pun menjadi “bahan” utama dalam membuat komposisi lirik dan lagu.
Dari segi isi, lagu-lagu Wak Uteh sebagian besar menyoroti latar kehidupan masyarakat Tanjung Balai, yang lebih banyak didominasi merupakan nelayan. Dia memotret keseharian insan dengan segala problematikanya.
Sebut saja kisah nelayan yang tetap saja kurang dalam mencari uang meski tubuh sudah meriang. Ketika pulang ke rumah, istri malah merepet panjang-panjang. Kadang, jikalau sanggup uang sedikit, beliau tak lagi peduli pada apapun, termasuk rumah hendak runtuh, yang penting masakan lezat tersedia.
Ada juga kisah seorang anak yang gres berusia 16 tahun tapi sudah dikawinkan. Tak kenal sepatu apalagi minum susu. Kondisi yang berubah ini tersurat dalam lagu yang berjudul “Bingung”.
Dunia ini tabalek-balek, natuo-tua bacewek-cewek,
omak-omak basolek, na mudo-mudo tagolek-golek.
Baru duduk kelas lima SD , bapacaran sudah pande-pande,
matematika beliau tak tau, nulis surat cinta beliau nomor satu.
Bingung-bingung mari kito bingung, linglung-linglung banyak orang linglung.
Lirik dalam lagu-lagu Wak Uteh lugas, tegas, dan bernas. Tak memakai bahasa-bahasa kiasan indah. Pada sebuah lagu yang berjudul “Ikan Asin”, misalnya, Wak Uteh juga berkisah mengenai kondisi sebelum Susilo Bambang Yudhoyono terpilih sebagai presiden Republik Indonesia. Tak ketinggalan kisahnya menyasar pada calon-calon legislator yang penuh dengan janji.
Begini lirik lagunya:
ikan asin tahu tempe hari hari ho… daun ubi sayur kangkung hari hari ho 2 x
pokak-pokak talingo bodoh-bodoh mambodoh jadinyo 2 x
jangan waktu kampanye saja bapak buat janji-janji indah
tapi sehabis bapak duduk, ngantuk-ngantuk-ngantuk
siapa suka, suka adenda, di kolam kami banyak limbat
kapalo limbat dipotuk, dipanggang obat mangantuk
kapalo limbat dipotuk kawannya kopi samangkuk
tralalalalala… 2 x
jangan kuyak bapak bendera kami jangan diribak bapak persatuan kami
wahai bapak presiden tolong hapuskan KKN
hidup rakyat akan paten kalau diurus telaten
tak lagi hargo-hargo naek tak tak lagi makan kapalo ikan asin
ikan asin tahu tempe hari hari ho… daun ubi sayur kangkung hari hari ho…
pokak-pokak talingo bodoh-bodoh mambodoh jadinyo 2 x
jangan sehabis bapak dilantik mau jumpa pun sulit-sulit
dulu sebelum sanggup kursinya ramah-ramah-ramah
siapa suka-suka adekda di ladang kami banyak ular
jangan mambolit mangular duit rakyat pun diputar
tralalalalala… 2 x
hukum mati saja para koruptor jangan pemerintah jadi diktator
soesilo bambang yudhoyono manjanjikan parobahan
mari kita samo-samo saling bantu mewujudkan

Selain itu, ada juga satu lagu yang berjudul “Tutur Melayu”. Lagu ini mengingatkan orang wacana bagaimana seharusnya orang Melayu (Sumatera Timur) bertutur, memanggil kepada yang lebih bau tanah dan lebih muda.
yang pertama ulong
yang kedua ongah
yang ketiga alang
yang keempat uteh
yang kelima iyong
yang keenam anggah
yang ketujuh anggak
seterusnya busu ucu
kalau ayahnya ayah itu disebut atok
kalau omaknya ayah itu disebut nenek
kalau abangnya ayah itu disebut uak
kalau adeknya omak itu disebut incek
kalau atoknya atok itu disebut apo
takkan hilang ditelan zaman, takkan lapuk disiram hujan
lestarilah budayaku sepanjang zaman, lestarilah budayaku sepanjang masa
Tampilan
Banyak lagu-lagu Wak Uteh yang sudah ditampilkan dalam bentuk audio visual. Dan di sana kerap ditampilkan pemandangan suasana dan situasi Tanjung Balai. Misalnya sampan-sampan kecil yang setiap detik merengkuh gelombang bertarung melawan angin, dermaga dan titi kecil berbahan papan, pantai tanpa nyiur, burung-burung menepis buih, belum dewasa bermain-main di air kotor, gadis-gadis Tanjung Balai, atau nelayan memukat ikan.

Akan tetapi, meski sanggup menghibur dan bisa membuat orang tertawa suka, video-video klip Wak Uteh sungguh jauh dari kesan professional. Teknik pengambilan gambarnya tak digarap serius, wajah-wajah model di klipnya tak dirias secara pas, pencahayaan susah untuk disebut mantap, dan gambarnya yang kadang bergoyang-goyang. Skenario pembabakan dalam klipnya pun terkesan seadanya. Gambar-gambarnya lebih bersifat tempelan, sambungan dari banyak sekali gambar-gambar.
Wak Uteh nampaknya lebih memikirkan soal bunyi ketimbang yang lainnya. Ya, kalau soal suara, Wak Uteh dan Roncah Group memang jagonya. Suaranya khas sekali dan lezat di dengar.
Masyarakat di luar Tanjung Balai atau Sumatera Utara barangkali belum pernah melihat agresi panggung Wak Uteh. Maklum, perusahaan-perusahaan televisi lokal Jakarta memang tak pernah menyiarkannya. Alih-alih meliput agresi panggung Wak Uteh, perusahaan-perusahaan televisi itu lebih suka memasukkan kebudayaan-kebudayaan lain ke Sumatera Utara. Ya, televisi Jakarta memang dilegalkan untuk melaksanakan penetrasi ke Sumatera Utara, sementara Sumatera Utara tidak sanggup melaksanakan sebaliknya ke Jakarta.
Dapat bertahannya Wak Uteh di zaman yang penuh dengan kesebentaran ini juga sanggup dipandang sebagai sebuah keberhasilan. Ada kerja keras dari dalam yang menghasilkan suatu ‘karang yang tegak’.
Melalui Wak Uteh, orang seakan diingatkan kembali bagaimana potret orang Melayu Pesisir yang penuh adat dan budaya. Pun mengingatkan bagaimana berguru bertutur yang sudah diatur oleh leluhur.

Sumber : lenteratimur.com



Demikianlah Artikel Mengenal Lebih Erat Group Musik Melayu Wak Uteh

Sekianlah artikel Mengenal Lebih Erat Group Musik Melayu Wak Uteh kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Mengenal Lebih Erat Group Musik Melayu Wak Uteh dengan alamat link https://syuhadashahrizam23.blogspot.com/2009/01/mengenal-lebih-erat-group-musik-melayu.html

Iklan Atas Artikel

loading...

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel